“Yang Mulia, saya telah selesai mengerjakan semua
perintah anda. Kerajaan ini sudah memiliki teritori yang sangat luas seperti
apa yang anda minta, begitu pula dengan sumber daya alam maupun manusia yang ada
di sini. Saya berdiri di hadapan Anda, hanya ingin menginformasikan bahwa
kontrak kerja yang Anda buat dengan saya telah selesai.” Kata seorang lelaki
yang menggunakan tuxedo berbalut jubah hitam panjang. Rambut hitamnya yang
panjang sebahu melambai seraya dia membungkukkan badan di hadapan seseorang
yang disebutnya dengan penuh hormat.
Yang Mulia itu menatap lelaki tersebut dengan tatapan
yang sedingin es. Mahkota di atas kepalanya berkilauan bersamaan dengan
masuknya cahaya matahari dari celah jendela yang setengah terbuka ke dalam
ruangan besar itu. Di tengah ruangan ada sebuah singgasana besar, tempat dimana
Yang Mulia itu duduk. Di kiri kanan ruangan, orang orang berseragam formal
lengkap dengan tombak panjang berbaris rapi bagaikan pagar berduri yang siap
menusuk siapapun yang mencoba menerobosnya.
“Apa yang akan kau lakukan setelah pergi dari sini?" kata Sang Raja setelah diam selama beberapa detik.
"Apa kau akan menerima jika ada kerajaan lain
yang menginginkan sihirmu untuk memperkaya kerajaan mereka?" tanyanya
lagi. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu tersenyum.
"Tentu saja, wahai Rajaku. Asalkan mereka
memenuhi imbalan yang saya minta, saya tak punya alasan untuk menolak."
Setelah itu ruangan menjadi hening. Sang Raja masih berkutat dalam diam,
sementara orang-orang lain di dalam ruangan tidak ada yang memiliki keberanian
untuk memecah kesunyian yang mencekam itu. Perlahan, sang raja mengayunkan
pergelangan tangannya.
Tiba-tiba semua pintu dan jendela tertutup. Dengan
sigap, para penjaga langsung mengacungkan tombaknya, mengarahkannya ke lelaki
serba hitam itu.
“Bunuh dia” perintah Sang Raja. Seluruh penjaga
menusukkan tombak mereka ke lelaki itu. Lelaki serba hitam itu kaget, darah
mengalir deras dari perutnya, dimana puluhan tombak mendaratkan ujung tajamnya.
Dia terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya. Dia menatap tajam orang yang
duduk di singgasana itu.
Perlahan seluruh perabot di ruangan itu bergetar. Petir menyambar, ruangan itu menjadi semakin gelap gulita. Angin berhembus sangat kencang, menghempas-hempaskan jendela. Langit bergemuruh. Sambil menahan luka yang menganga di tubuhnya, lelaki berbaju hitam itu perlahan menegakkan punggungnya, menatap Sang Raja dengan tatapan penuh kebencian.
“TERKUTUKLAH KAU, ORANG SERAKAH! TERKUTUKLAH KAU
BESERTA KERAJAAN DAN SELURUH KETURUNANMU! AKU BERSUMPAH KERAJAAN INI AKAN
SEGERA BERAKHIR, DAN TAK ADA LAGI YANG AKAN MENGINGAT KERAJAAN INI!! LIHATLAH
DARAH DI LANTAI INI, AKU BERSUMPAH KETURUNAN TERAKHIRMU AKAN MENDAPATKAN
SESUATU YANG SERUPA DENGAN BERCAK DARAH INI, DIALAH YANG AKAN MENGAKHIRI
KERAJAANMU!! RAJA YANG TAK ADIL DAN MENGANDALKAN SIHIR HITAM, JATUHLAH KE DALAM
KEGELAPAN!!!” Teriak lelaki itu di saat-saat terakhirnya. Setelah itu dia
terjatuh, tak bergerak lagi.
Anak laki laki itu berdiri diam di depan satu satunya jendela di ruangan kecil itu. Rambutnya panjang sampai telinganya, sekilas ia terlihat seperti anak perempuan. Di ruangan itu hanya ada sebuah lemari, cermin, sebuah ranjang kecil, dan pintu menuju kamar mandi. Baju yang dikenakan anak itu dekil, dengan jahitan perca di sana sini. Dia menatap kosong ke pemandangan di depannya, pemandangan yang sama yang selalu ia lihat setiap hari entah sejak kapan. Pemandangan di luar cukup gersang, dengan tembok raksasa yang menghalanginya melihat pemandangan lebih jauh. Hanya dengan melihat pemandangan itu saja, jelas bahwa anak itu sedang berada di puncak sebuah menara yang menjulang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar