16/09/16

[La Fleur de la Flétrie | The Flower Withered] -- Chapter I: The Empire and The Boy --

“Yang Mulia, saya telah selesai mengerjakan semua perintah anda. Kerajaan ini sudah memiliki teritori yang sangat luas seperti apa yang anda minta, begitu pula dengan sumber daya alam maupun manusia yang ada di sini. Saya berdiri di hadapan Anda, hanya ingin menginformasikan bahwa kontrak kerja yang Anda buat dengan saya telah selesai.” Kata seorang lelaki yang menggunakan tuxedo berbalut jubah hitam panjang. Rambut hitamnya yang panjang sebahu melambai seraya dia membungkukkan badan di hadapan seseorang yang disebutnya dengan penuh hormat.
Yang Mulia itu menatap lelaki tersebut dengan tatapan yang sedingin es. Mahkota di atas kepalanya berkilauan bersamaan dengan masuknya cahaya matahari dari celah jendela yang setengah terbuka ke dalam ruangan besar itu. Di tengah ruangan ada sebuah singgasana besar, tempat dimana Yang Mulia itu duduk. Di kiri kanan ruangan, orang orang berseragam formal lengkap dengan tombak panjang berbaris rapi bagaikan pagar berduri yang siap menusuk siapapun yang mencoba menerobosnya.

“Apa yang akan kau lakukan setelah pergi dari sini?" kata Sang Raja setelah diam selama beberapa detik.
"Apa kau akan menerima jika ada kerajaan lain yang menginginkan sihirmu untuk memperkaya kerajaan mereka?" tanyanya lagi. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu tersenyum.
"Tentu saja, wahai Rajaku. Asalkan mereka memenuhi imbalan yang saya minta, saya tak punya alasan untuk menolak." Setelah itu ruangan menjadi hening. Sang Raja masih berkutat dalam diam, sementara orang-orang lain di dalam ruangan tidak ada yang memiliki keberanian untuk memecah kesunyian yang mencekam itu. Perlahan, sang raja mengayunkan pergelangan tangannya.
Tiba-tiba semua pintu dan jendela tertutup. Dengan sigap, para penjaga langsung mengacungkan tombaknya, mengarahkannya ke lelaki serba hitam itu.
“Bunuh dia” perintah Sang Raja. Seluruh penjaga menusukkan tombak mereka ke lelaki itu. Lelaki serba hitam itu kaget, darah mengalir deras dari perutnya, dimana puluhan tombak mendaratkan ujung tajamnya. Dia terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya. Dia menatap tajam orang yang duduk di singgasana itu.

Perlahan seluruh perabot di ruangan itu bergetar. Petir menyambar, ruangan itu menjadi semakin gelap gulita. Angin berhembus sangat kencang, menghempas-hempaskan jendela. Langit bergemuruh. Sambil menahan luka yang menganga di tubuhnya, lelaki berbaju hitam itu perlahan menegakkan punggungnya, menatap Sang Raja dengan tatapan penuh kebencian.
“TERKUTUKLAH KAU, ORANG SERAKAH! TERKUTUKLAH KAU BESERTA KERAJAAN DAN SELURUH KETURUNANMU! AKU BERSUMPAH KERAJAAN INI AKAN SEGERA BERAKHIR, DAN TAK ADA LAGI YANG AKAN MENGINGAT KERAJAAN INI!! LIHATLAH DARAH DI LANTAI INI, AKU BERSUMPAH KETURUNAN TERAKHIRMU AKAN MENDAPATKAN SESUATU YANG SERUPA DENGAN BERCAK DARAH INI, DIALAH YANG AKAN MENGAKHIRI KERAJAANMU!! RAJA YANG TAK ADIL DAN MENGANDALKAN SIHIR HITAM, JATUHLAH KE DALAM KEGELAPAN!!!” Teriak lelaki itu di saat-saat terakhirnya. Setelah itu dia terjatuh, tak bergerak lagi.



                Anak laki laki itu berdiri diam di depan satu satunya jendela di ruangan kecil itu. Rambutnya panjang sampai telinganya, sekilas ia terlihat seperti anak perempuan. Di ruangan itu hanya ada sebuah lemari, cermin, sebuah ranjang kecil, dan pintu menuju kamar mandi. Baju yang dikenakan anak itu dekil, dengan jahitan perca di sana sini. Dia menatap kosong ke pemandangan di depannya, pemandangan yang sama yang selalu ia lihat setiap hari entah sejak kapan. Pemandangan di luar cukup gersang, dengan tembok raksasa yang menghalanginya melihat pemandangan lebih jauh. Hanya dengan melihat pemandangan itu saja, jelas bahwa anak itu sedang berada di puncak sebuah menara yang menjulang tinggi.
Anak berumur 9 tahun itu bahkan tidak ingat apakah dia pernah menginjak tanah di luar. Dia merasa seperti sudah dikurung di dalam menara itu sejak dia lahir. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu besar ruangan itu, satu-satunya pintu yang mengarah ke tangga untuk turun. Gemerincing suara kunci terdengar, pintu pun mengayun perlahan. Di ambang pintu, tampaklah sesosok anak perempuan yang sebaya dengan anak yang berpakaian lusuh di dalam ruangan berbentuk persegi itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar