18/09/16

[La Fleur de la Flétrie | The Flower Withered] -- Chapter II: Separated Twins --

 Anak perempuan itu mengenakan gaun kuning selutut. Hiasan bunga mawar tertata  rapi di rambut pendeknya. Dia terlihat sangat cantik. Kemudian dia melangkah masuk.
 “Hei, hari ini Ayah gak ada, jadi kau bisa keluar. Ayo, ini satu-satunya kesempatanmu untuk keluar dari tempat mengenaskan ini!” kata anak perempuan itu sambil mengeluarkan sesuatu dan memberikannya kepada anak laki-laki itu. Sepotong roti dan setelan pakaian. Anak laki-laki itu dengan lahap memakan roti itu, seolah-olah tak pernah makan selama berbulan-bulan.
“Kakak, makannya sesuai dengan table manner, dong! Walaupun kau dikurung di sini, tetap saja kau ini adalah putra mahkota kerajaan!” anak perempuan itu mendengus kesal melihat tingkah laku kakaknya itu.
 “Table manner? Makanan apa itu?” tanya anak itu tanpa menghentikan makannya. Anak perempuan itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya itu. Ya, mereka berdua adalah saudara, bahkan wajah mereka sangatlah mirip.
Sejak menemukan sebuah kunci di dalam mantel milik mendiang ibunya, setiap bulan anak perempuan itu jadi sering ke menara tempat kakaknya dikurung. Darimana ia tahu kunci yang ditemukannya adalah kunci ruangan di puncak menara? Rasa penasarannya lah yang membuatnya sampai ke menara ini. Semua pintu yang terkunci pernah dicobanya, dan akhirnya dia pun tahu ternyata kunci itu adalah kunci dari sebuah ruangan di puncak menara, yang ternyata adalah tempat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan dirinya, dikurung sendirian.
Lalu kenapa kunci ruangan itu bisa ada di mantel mendiang ibunya? Hanya satu kemungkinan yang terpikirkan olehnya. Orang tuanya sengaja mengurung anak laki-laki itu. Namun siapakah anak itu? Kenapa wajah mereka bisa mirip? Jika benar dia adalah saudaranya, lantas kenapa anak itu dikurung? Berjuta pertanyaan senantiasa menghujam pikiran anak perempuan itu setiap kali ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang dia anggap adalah kakaknya itu.
“Nih, aku juga bawain pakaian. Kalo kakak keluar pake baju lusuh gitu, kan aneh kalo dilihat orang! Ayo, cepetan. Nanti Ayah keburu pulang nih..” kata anak perempuan itu
“Bawel, ah. Ya sudah. Tunggu bentar ya” kata anak lelaki itu setelah menerima pakaian dari adiknya. Ia pun bergegas mengganti bajunya.
“Alex, kau ini laki-laki tapi badannya kok kurus gitu ya. Mana rambutnya kayak cewek lagi.. Lain kali aku bawain gaun deh! Hahaha..”
“Ih, apaan sih..” anak itu tetap sibuk mengganti bajunya. Adiknya yang tadinya tertawa tiba-tiba terdiam karena melihat sesuatu yang ada di punggung kakaknya.
“Kak, ini apa?” tanyanya
“Oh, ini? Nggak tahu.. Tanda lahir, mungkin?”
“Kok serem ya, kayak bercak darah”
“Terserah apa katamu deh”
“...... Hei, ngomong-ngomong soal alasan kenapa kakak dikurung di sini.. Ketika aku tanya sama para pelayan kerajaan, mereka bilang aku nggak punya saudara.. Ketika aku mengatakan soal menara ini, kata mereka Ayah melarang semua pelayan kerajaan mendekati menara ini. Karena itulah aku belum tanya ke Ayah.. Sepertinya bukan ide yang bagus untuk nanya ke Ayah."
“Kalau kata para pelayan kau tak punya saudara, lalu kau tahu darimana kalau aku ini saudara dari Alexa, Sang Putri Pewaris Tahta Kerajaan?”

“Melihat wajah kita saja jelas-jelas kita ini anak kembar, kan.. Ditambah lagi nama kita, Alex dan Alexa. Aku nggak tahu kenapa orang-orang merahasiakanmu.... Dan katamu ketika kau bangun pagi selalu ada makanan baru, kan? Berarti ada seseorang yang punya kunci lain menara ini dan selalu ke sini setiap hari tanpa sepengetahuanmu... Eh, kok malah ngobrol sih. Ayo, sekarang kita ke bawah!” katanya sambil menarik lengan kakaknya ke luar ruangan.

“Wahahaha, kakak ngapain sih? Masa belalang aja nggak tahu?” anak perempuan itu tertawa, wajahnya sangat manis ketika tersenyum. Kakaknya yang sedari tadi berbinar-binar melihat hal-hal yang baru pertama kali dilihatnya langsung menoleh ke arahnya.
“Hei, ini kan pertama kalinya aku keluar! Bahkan aku tidak ingat apakah aku pernah keluar sebelumnya—Hei, Alexa!! Apa yang akan terjadi jika aku menarik rumput-rumput ini? Lalu, apakah tanah juga bisa diambil?” kata Alex. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat bersemangat. Dia tidak menyangka ternyata di luar menara tempat dia dikurung ada sangat banyak hal yang tidak dia ketahui.
“Coba saja sendiri, nanti kau tahu juga kok.”
“Hei, hei! Kalau yang itu apa?” Alex kembali bertanya tanya sambil menunjuk sesuatu
“Itu namanya bunga.”
“Bunga? Kenapa mereka bisa berwarna warni begitu? Eh, tunggu dulu.. jadi yang kau pakai di kepalamu itu bunga ya?!” tanyanya sambil mendekati bunga liar berwarna kuning di rerumputan.
“Aih, baru tahu ya? Tapi yang ini bukan bunga asli.” Kata Alexa sambil menyentuh hiasan mawar kuning di rambutnya yang juga berwarna pirang kekuningan
“Ooh, jadi begitu ya...” Alex manggut manggut, kemudian dia duduk di dekat bunga-bunga liar dan melakukan sesuatu
“Kak. Kau ngapain?”
“Tunggu dulu sebentar.. Aku punya ide..”
“Hm? Apaan nih?” Alexa mulai penasaran, tetapi Alex tetap tak mau memberitahunya. Ia pun terpaksa harus menunggu kakaknya menyelesaikan idenya itu. Beberapa menit kemudian, Alex berbalik ke arah Alexa dan mengangkat sesuatu.
“Tadaaaaaa!! Aku juga bisa loh bikin hiasan kepala seperti punyamu!” kata Alex girang sambil memamerkan hasil karyanya. Sebuah benda berbentuk cincin yang besar, terbuat dari rangkaian bunga, ranting, dan dedaunan. Atau yang lebih dikenal dengan istilah flower crown.
            “Wah, bagus banget! Yah, walaupun nggak sebagus dengan bando-ku sih.. Ternyata kakak punya bakat dalam hal yang beginian ya..” puji Alexa dengan mata berbinar-binar. Alex mendekatinya, melepaskan bando mawarnya, dan memakaikan flower crown buatannya.
            “Untukmu.” Katanya sambil tersenyum. Alexa sangat senang karena di lingkungan istana ini dia tak pernah punya teman yang seumuran dengannya. Jika ada pun, mungkin hanya saat ada pesta besar. Sehari-hari dia hanya mengikuti jadwal yang telah ditentukan seperti halnya seorang putri kerajaan. Apalagi dengan statusnya sebagai pewaris mahkota raja.
            “Waah, terima kasih kak!” serunya dengan ceria. Senyum lebar menghiasi bibirnya. Kakaknya, Alex pun ikut tersenyum.
            “Sepertinya sebentar lagi hujan, ya?” kata Alex sambil melihat langit yang mulai berwarna kelabu. Alexa pun mengiyakan. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada yang melangkah mendekati mereka dari belakang. Bukan hanya seorang, tetapi segerombolan. Ketika Alexa menyadarinya, ia sudah terlambat. Orang-orang itu memisahkan mereka berdua. Alexa mengenal mereka, mereka adalah para pelayan kerajaan. Alexa tahu mereka tidak mungkin akan menyakitinya, tetapi ia yakin mereka menarik Alex dengan kasar.
            “Hei, ada apa ini?! Lepaskan aku!” teriak Alexa. Ia meronta-ronta, mencoba melepaskan diri. Tetapi usahanya sia-sia. Ia yang seorang anak kecil tak mungkin bisa melawan tenaga beberapa orang dewasa.
            “Ini adalah perintah dari Raja, Tuan Putri. Mohon maafkan kelancangan kami.”
            Alexa tetap melawan, sampai ketika ia melihat sosok ayahnya datang. Ia pun langsung terdiam.
            “Nak, bukankah ayah pernah bilang jangan sekali-kali kau mendekati menara itu? Jadi sekarang kau berani melawan?”
            Alexa tertunduk, ia tak melawan lagi. Ia tahu persis apa yang akan terjadi bila ia membangkang lebih jauh lagi. Ayahnya tak akan segan untuk memberikan hukuman berat untuknya. Tetapi di dalam dirinya ada suara yang menyuruhnya untuk tetap melawan. Ia harus bertanggung jawab karena telah melibatkan kakaknya. Ia pun meyakinkan diri untuk tetap melawan.
            “Ayah, kenapa dia dikurung?! Dia saudaraku kan?! Dia anakmu juga, kan?!” Alexa tak tahan lagi. Dia tetap melawan sambil menangis. Ayahnya mendekatinya, lalu ia berlutut agar bisa menatap lurus-lurus mata anak perempuannya itu.
            “Kau tidak mengerti, nak. Ayah melakukan ini demi kerajaan ini. Suatu saat kau akan tahu alasannya.” Kata ayahnya dengan lembut, tetapi dengan sorot mata yang dingin
            “Tapi, Ayah—“ sebelum Alexa menyelesaikan kalimatnya, ayahnya langsung menampar wajahnya. Flower crown buatan Alex yang menghiasi kepalanya langsung terjatuh ke tanah. Ia pun terdiam, benar-benar tak melawan lagi.
“Alexaaaaa!!” Alex yang melihat itu menjadi semakin ketakutan. Dan langsung meneriakkan nama adiknya. Sang Raja –atau bisa dibilang ‘ayah’nya– menatap Alex dengan tatapan dingin.
“Bawa dia ke tempat wanita itu” kata Sang Raja.
Orang-orang yang menahan Alexa pun membawanya naik ke atas kereta. Alexa tak berkutik lagi, ia hanya bisa berdiam diri sambil menangis melihat kakaknya yang akan dibawa pergi.
“Alexa! Suatu saat aku akan kembali lagi ke sini. Aku akan menjadi pelindungmu! Pasti!” Teriak Alex. Sang Raja pun menarik Alexa masuk ke dalam istana karena langit mulai merintikkan hujan.
Aku akan kembali lagi ke sini. Aku akan menjadi pelindungmu! Pasti! Kata-kata Alex terngiang di telinganya. Ia sangat menyesali perbuatannya. Kalau saja aku tidak memaksanya keluar, ini pasti tak akan terjadi, pikirnya dalam hati sambil melangkah di samping ayahnya di koridor istana.
“Kau janji kan, kakak?” gumamnya dengan suara yang lirih, bahkan hampir tak terdengar karena hujan sudah menjadi deras


16/09/16

[La Fleur de la Flétrie | The Flower Withered] -- Chapter I: The Empire and The Boy --

“Yang Mulia, saya telah selesai mengerjakan semua perintah anda. Kerajaan ini sudah memiliki teritori yang sangat luas seperti apa yang anda minta, begitu pula dengan sumber daya alam maupun manusia yang ada di sini. Saya berdiri di hadapan Anda, hanya ingin menginformasikan bahwa kontrak kerja yang Anda buat dengan saya telah selesai.” Kata seorang lelaki yang menggunakan tuxedo berbalut jubah hitam panjang. Rambut hitamnya yang panjang sebahu melambai seraya dia membungkukkan badan di hadapan seseorang yang disebutnya dengan penuh hormat.
Yang Mulia itu menatap lelaki tersebut dengan tatapan yang sedingin es. Mahkota di atas kepalanya berkilauan bersamaan dengan masuknya cahaya matahari dari celah jendela yang setengah terbuka ke dalam ruangan besar itu. Di tengah ruangan ada sebuah singgasana besar, tempat dimana Yang Mulia itu duduk. Di kiri kanan ruangan, orang orang berseragam formal lengkap dengan tombak panjang berbaris rapi bagaikan pagar berduri yang siap menusuk siapapun yang mencoba menerobosnya.

“Apa yang akan kau lakukan setelah pergi dari sini?" kata Sang Raja setelah diam selama beberapa detik.
"Apa kau akan menerima jika ada kerajaan lain yang menginginkan sihirmu untuk memperkaya kerajaan mereka?" tanyanya lagi. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu tersenyum.
"Tentu saja, wahai Rajaku. Asalkan mereka memenuhi imbalan yang saya minta, saya tak punya alasan untuk menolak." Setelah itu ruangan menjadi hening. Sang Raja masih berkutat dalam diam, sementara orang-orang lain di dalam ruangan tidak ada yang memiliki keberanian untuk memecah kesunyian yang mencekam itu. Perlahan, sang raja mengayunkan pergelangan tangannya.
Tiba-tiba semua pintu dan jendela tertutup. Dengan sigap, para penjaga langsung mengacungkan tombaknya, mengarahkannya ke lelaki serba hitam itu.
“Bunuh dia” perintah Sang Raja. Seluruh penjaga menusukkan tombak mereka ke lelaki itu. Lelaki serba hitam itu kaget, darah mengalir deras dari perutnya, dimana puluhan tombak mendaratkan ujung tajamnya. Dia terbatuk-batuk, darah keluar dari mulutnya. Dia menatap tajam orang yang duduk di singgasana itu.

Perlahan seluruh perabot di ruangan itu bergetar. Petir menyambar, ruangan itu menjadi semakin gelap gulita. Angin berhembus sangat kencang, menghempas-hempaskan jendela. Langit bergemuruh. Sambil menahan luka yang menganga di tubuhnya, lelaki berbaju hitam itu perlahan menegakkan punggungnya, menatap Sang Raja dengan tatapan penuh kebencian.
“TERKUTUKLAH KAU, ORANG SERAKAH! TERKUTUKLAH KAU BESERTA KERAJAAN DAN SELURUH KETURUNANMU! AKU BERSUMPAH KERAJAAN INI AKAN SEGERA BERAKHIR, DAN TAK ADA LAGI YANG AKAN MENGINGAT KERAJAAN INI!! LIHATLAH DARAH DI LANTAI INI, AKU BERSUMPAH KETURUNAN TERAKHIRMU AKAN MENDAPATKAN SESUATU YANG SERUPA DENGAN BERCAK DARAH INI, DIALAH YANG AKAN MENGAKHIRI KERAJAANMU!! RAJA YANG TAK ADIL DAN MENGANDALKAN SIHIR HITAM, JATUHLAH KE DALAM KEGELAPAN!!!” Teriak lelaki itu di saat-saat terakhirnya. Setelah itu dia terjatuh, tak bergerak lagi.



                Anak laki laki itu berdiri diam di depan satu satunya jendela di ruangan kecil itu. Rambutnya panjang sampai telinganya, sekilas ia terlihat seperti anak perempuan. Di ruangan itu hanya ada sebuah lemari, cermin, sebuah ranjang kecil, dan pintu menuju kamar mandi. Baju yang dikenakan anak itu dekil, dengan jahitan perca di sana sini. Dia menatap kosong ke pemandangan di depannya, pemandangan yang sama yang selalu ia lihat setiap hari entah sejak kapan. Pemandangan di luar cukup gersang, dengan tembok raksasa yang menghalanginya melihat pemandangan lebih jauh. Hanya dengan melihat pemandangan itu saja, jelas bahwa anak itu sedang berada di puncak sebuah menara yang menjulang tinggi.
Anak berumur 9 tahun itu bahkan tidak ingat apakah dia pernah menginjak tanah di luar. Dia merasa seperti sudah dikurung di dalam menara itu sejak dia lahir. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu besar ruangan itu, satu-satunya pintu yang mengarah ke tangga untuk turun. Gemerincing suara kunci terdengar, pintu pun mengayun perlahan. Di ambang pintu, tampaklah sesosok anak perempuan yang sebaya dengan anak yang berpakaian lusuh di dalam ruangan berbentuk persegi itu.