Anak perempuan itu
mengenakan gaun kuning selutut. Hiasan bunga mawar tertata rapi di rambut
pendeknya. Dia terlihat sangat cantik. Kemudian dia melangkah masuk.
“Hei, hari ini Ayah
gak ada, jadi kau bisa keluar. Ayo, ini satu-satunya kesempatanmu untuk keluar
dari tempat mengenaskan ini!” kata anak perempuan itu sambil mengeluarkan
sesuatu dan memberikannya kepada anak laki-laki itu. Sepotong roti dan setelan
pakaian. Anak laki-laki itu dengan lahap memakan roti itu, seolah-olah tak
pernah makan selama berbulan-bulan.
“Kakak, makannya sesuai
dengan table manner, dong! Walaupun kau dikurung di sini, tetap saja kau ini
adalah putra mahkota kerajaan!” anak perempuan itu mendengus kesal melihat
tingkah laku kakaknya itu.
“Table manner?
Makanan apa itu?” tanya anak itu tanpa menghentikan makannya. Anak perempuan
itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya itu. Ya, mereka berdua
adalah saudara, bahkan wajah mereka sangatlah mirip.
Sejak menemukan sebuah
kunci di dalam mantel milik mendiang ibunya, setiap bulan anak perempuan itu
jadi sering ke menara tempat kakaknya dikurung. Darimana ia tahu kunci yang
ditemukannya adalah kunci ruangan di puncak menara? Rasa penasarannya lah yang
membuatnya sampai ke menara ini. Semua pintu yang terkunci pernah dicobanya,
dan akhirnya dia pun tahu ternyata kunci itu adalah kunci dari sebuah ruangan
di puncak menara, yang ternyata adalah tempat seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan dirinya,
dikurung sendirian.
Lalu kenapa kunci ruangan
itu bisa ada di mantel mendiang ibunya? Hanya satu kemungkinan yang terpikirkan
olehnya. Orang tuanya sengaja mengurung anak laki-laki itu. Namun siapakah anak
itu? Kenapa wajah mereka bisa mirip? Jika benar dia adalah saudaranya, lantas
kenapa anak itu dikurung? Berjuta pertanyaan senantiasa menghujam pikiran anak
perempuan itu setiap kali ia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang dia
anggap adalah kakaknya itu.
“Nih, aku juga bawain
pakaian. Kalo kakak keluar pake baju lusuh gitu, kan aneh kalo dilihat orang!
Ayo, cepetan. Nanti Ayah keburu pulang nih..” kata anak perempuan itu
“Bawel, ah. Ya sudah.
Tunggu bentar ya” kata anak lelaki itu setelah menerima pakaian dari adiknya.
Ia pun bergegas mengganti bajunya.
“Alex, kau ini laki-laki
tapi badannya kok kurus gitu ya. Mana rambutnya kayak cewek lagi.. Lain kali
aku bawain gaun deh! Hahaha..”
“Ih, apaan sih..” anak itu
tetap sibuk mengganti bajunya. Adiknya yang tadinya tertawa tiba-tiba terdiam
karena melihat sesuatu yang ada di punggung kakaknya.
“Kak, ini apa?” tanyanya
“Oh, ini? Nggak tahu..
Tanda lahir, mungkin?”
“Kok serem ya, kayak bercak
darah”
“Terserah apa katamu deh”
“...... Hei,
ngomong-ngomong soal alasan kenapa kakak dikurung di sini.. Ketika aku tanya
sama para pelayan kerajaan, mereka bilang aku nggak punya saudara.. Ketika aku
mengatakan soal menara ini, kata mereka Ayah melarang semua pelayan kerajaan
mendekati menara ini. Karena itulah aku belum tanya ke Ayah.. Sepertinya
bukan ide yang bagus untuk nanya ke Ayah."
“Kalau kata para pelayan
kau tak punya saudara, lalu kau tahu darimana kalau aku ini saudara dari Alexa,
Sang Putri Pewaris Tahta Kerajaan?”
“Melihat wajah kita saja
jelas-jelas kita ini anak kembar, kan.. Ditambah lagi nama kita, Alex dan
Alexa. Aku nggak tahu kenapa orang-orang merahasiakanmu.... Dan katamu
ketika kau bangun pagi selalu ada makanan baru, kan? Berarti ada seseorang yang
punya kunci lain menara ini dan selalu ke sini setiap hari tanpa
sepengetahuanmu... Eh, kok malah ngobrol sih. Ayo, sekarang kita ke
bawah!” katanya sambil menarik lengan kakaknya ke luar ruangan.
“Wahahaha, kakak ngapain
sih? Masa belalang aja nggak tahu?” anak perempuan itu tertawa, wajahnya sangat
manis ketika tersenyum. Kakaknya yang sedari tadi berbinar-binar melihat
hal-hal yang baru pertama kali dilihatnya langsung menoleh ke arahnya.
“Hei, ini kan pertama
kalinya aku keluar! Bahkan aku tidak ingat apakah aku pernah keluar
sebelumnya—Hei, Alexa!! Apa yang akan terjadi jika aku menarik rumput-rumput
ini? Lalu, apakah tanah juga bisa diambil?” kata Alex. Untuk pertama kalinya
dalam hidupnya, ia merasa sangat bersemangat. Dia tidak menyangka ternyata di
luar menara tempat dia dikurung ada sangat banyak hal yang tidak dia ketahui.
“Coba saja sendiri, nanti
kau tahu juga kok.”
“Hei, hei! Kalau yang itu
apa?” Alex kembali bertanya tanya sambil menunjuk sesuatu
“Itu namanya bunga.”
“Bunga? Kenapa mereka bisa
berwarna warni begitu? Eh, tunggu dulu.. jadi yang kau pakai di kepalamu itu
bunga ya?!” tanyanya sambil mendekati bunga liar berwarna kuning di rerumputan.
“Aih, baru tahu ya? Tapi
yang ini bukan bunga asli.” Kata Alexa sambil menyentuh hiasan mawar kuning di
rambutnya yang juga berwarna pirang kekuningan
“Ooh, jadi begitu ya...”
Alex manggut manggut, kemudian dia duduk di dekat bunga-bunga liar dan
melakukan sesuatu
“Kak. Kau ngapain?”
“Tunggu dulu sebentar.. Aku
punya ide..”
“Hm? Apaan nih?” Alexa
mulai penasaran, tetapi Alex tetap tak mau memberitahunya. Ia pun terpaksa
harus menunggu kakaknya menyelesaikan idenya itu. Beberapa menit kemudian, Alex
berbalik ke arah Alexa dan mengangkat sesuatu.
“Tadaaaaaa!! Aku juga bisa
loh bikin hiasan kepala seperti punyamu!” kata Alex girang sambil memamerkan
hasil karyanya. Sebuah benda berbentuk cincin yang besar, terbuat dari
rangkaian bunga, ranting, dan dedaunan. Atau yang lebih dikenal dengan
istilah flower crown.
“Wah, bagus banget! Yah, walaupun nggak sebagus dengan bando-ku sih.. Ternyata
kakak punya bakat dalam hal yang beginian ya..” puji Alexa dengan mata
berbinar-binar. Alex mendekatinya, melepaskan bando mawarnya, dan
memakaikan flower crown buatannya.
“Untukmu.” Katanya sambil tersenyum. Alexa sangat senang karena di lingkungan
istana ini dia tak pernah punya teman yang seumuran dengannya. Jika ada pun,
mungkin hanya saat ada pesta besar. Sehari-hari dia hanya mengikuti jadwal yang
telah ditentukan seperti halnya seorang putri kerajaan. Apalagi dengan
statusnya sebagai pewaris mahkota raja.
“Waah, terima kasih kak!” serunya dengan ceria. Senyum lebar menghiasi
bibirnya. Kakaknya, Alex pun ikut tersenyum.
“Sepertinya sebentar lagi hujan, ya?” kata Alex sambil melihat langit yang
mulai berwarna kelabu. Alexa pun mengiyakan. Tanpa sepengetahuan mereka berdua,
ada yang melangkah mendekati mereka dari belakang. Bukan hanya seorang, tetapi
segerombolan. Ketika Alexa menyadarinya, ia sudah terlambat. Orang-orang itu
memisahkan mereka berdua. Alexa mengenal mereka, mereka adalah para pelayan
kerajaan. Alexa tahu mereka tidak mungkin akan menyakitinya, tetapi ia yakin
mereka menarik Alex dengan kasar.
“Hei, ada apa ini?! Lepaskan aku!” teriak Alexa. Ia meronta-ronta, mencoba
melepaskan diri. Tetapi usahanya sia-sia. Ia yang seorang anak kecil tak
mungkin bisa melawan tenaga beberapa orang dewasa.
“Ini adalah perintah dari Raja, Tuan Putri. Mohon maafkan kelancangan kami.”
Alexa tetap melawan, sampai ketika ia melihat sosok ayahnya datang. Ia pun
langsung terdiam.
“Nak, bukankah ayah pernah bilang jangan sekali-kali kau mendekati menara itu?
Jadi sekarang kau berani melawan?”
Alexa tertunduk, ia tak melawan lagi. Ia tahu persis apa yang akan terjadi bila
ia membangkang lebih jauh lagi. Ayahnya tak akan segan untuk memberikan hukuman
berat untuknya. Tetapi di dalam dirinya ada suara yang menyuruhnya untuk tetap
melawan. Ia harus bertanggung jawab karena telah melibatkan kakaknya. Ia pun
meyakinkan diri untuk tetap melawan.
“Ayah, kenapa dia dikurung?! Dia saudaraku kan?! Dia anakmu juga, kan?!” Alexa
tak tahan lagi. Dia tetap melawan sambil menangis. Ayahnya mendekatinya, lalu
ia berlutut agar bisa menatap lurus-lurus mata anak perempuannya itu.
“Kau tidak mengerti, nak. Ayah melakukan ini demi kerajaan ini. Suatu saat kau
akan tahu alasannya.” Kata ayahnya dengan lembut, tetapi dengan sorot mata yang
dingin
“Tapi, Ayah—“ sebelum Alexa menyelesaikan kalimatnya, ayahnya langsung menampar
wajahnya. Flower crown buatan Alex yang menghiasi kepalanya
langsung terjatuh ke tanah. Ia pun terdiam, benar-benar tak melawan lagi.
“Alexaaaaa!!” Alex yang melihat itu menjadi semakin
ketakutan. Dan langsung meneriakkan nama adiknya. Sang Raja –atau bisa dibilang
‘ayah’nya– menatap Alex dengan tatapan dingin.
“Bawa dia ke tempat wanita itu” kata Sang Raja.
Orang-orang yang menahan Alexa pun membawanya naik ke
atas kereta. Alexa tak berkutik lagi, ia hanya bisa berdiam diri sambil
menangis melihat kakaknya yang akan dibawa pergi.
“Alexa! Suatu saat aku akan kembali lagi ke sini. Aku
akan menjadi pelindungmu! Pasti!” Teriak Alex. Sang Raja pun menarik Alexa
masuk ke dalam istana karena langit mulai merintikkan hujan.
Aku akan kembali lagi ke sini. Aku akan menjadi
pelindungmu! Pasti! Kata-kata
Alex terngiang di telinganya. Ia sangat menyesali perbuatannya. Kalau saja aku
tidak memaksanya keluar, ini pasti tak akan terjadi, pikirnya dalam hati sambil
melangkah di samping ayahnya di koridor istana.